Jumat, 19 Juni 2015

Biopestisida Tanaman Bintaro


  Sudah pernahkah rekan-rekan melihat tanaman yang satu ini? Ya.. tanaman bintaro ini bertebaran di taman-taman kota, trotoar jalan, halaman kantor dan di sudut perumahan. Sebagai tanaman peneduh Cerberra Odollam memang dikenal sebagai tanaman  yang dikenal tahan banting, cepat tumbuh dan mudah beradaptasi di berbagai lahan. Sehingga tak jarang Dinas Pertamanan maupun developer perumahan memilihnya sebagai pilihan utama pohon penghijauan.
Bintaro /kelampan/mangga laut adalah tumbuhan pantai yang ketinggiannya bisa mencapai 12 meter. Daunnya berbentuk lonjong mirip daun mangga, berwarna hijau tua yang tersusun berselingan. Bunganya harum dengan kelopak berwarna putih. Buah berbentuk bulat telur dengan panjang 5-10 cm, berwarna merah tua jika matang. Tersebar di pasifik dan banyak terdapat di ekosistem mangrove.
Namun  dibalik sosoknya yang cantik dengan buah yang menggoda tersimpan potensi racun yang mematikan. Buah Bintaro mengandung racun cerberrin yang sangat bersifat mematikan. Cerberrin juga bersifat racun kuat,  jika tertelan menyebabkan denyut jantung berhenti. Di India racun itu dipakai  untuk bunuh diri. Suku Dayak dan Banjar menggunakan racun ini untuk membunuh tikus,  nyamuk, menangkap ikan dan dioleskan pada anak panah untuk berburu. Beberapa laporan juga menyatakan asap dari pembakaran daun dan ranting kayu bisa menimbulkan efek toksik  atau keracunan bagi manusia dan binatang.

Racun Ulat Grayak
Sebuah penelitian yang dilakukan untuk menguji efikasi/daya bunuh racun bintaro terhadap serangga oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Banjar Baru-Kalsel . Sampel yang diambil adalah ulat grayak (Spodoptera Litura) yang dikenal rakus memakan daun hingga gundul. Ulat grayak sengaja dijadikan “kelinci percobaan” karena termasuk jenis yang sangat bandel dan lebih kuat terhadap pestisida daripada jenis ulat yang lain. Periset menggunakan 700 ulat grayak sebagai    bahan uji. Sebagai pembanding digunakan biopestisida Mimba, Binjai, ciplukan, anyaman, mahang serta pestisida sintetis berbahan aktif Lamda sihalotrin.
Periset mengekstrak daun-daun tersebut dengan dosis pengenceran 1 gram perliter air. Daun sawi dan bayam dicelupkan  dalam larutan dan diberikan sebagai pakan ulat grayak. Ulat terbagi dalam 5 kelompok perlakuan berdasarkan biopestisida yang dipakai dalam percobaan. Hasil riset pada tahun 2008 tersebut menunjukkan 24 jam pasca konsumsi pakan yang dicelupkan dalam larutan bintaro, sebanyak 30% populasi ulat grayak mati. Tingkat kematian naik menjadi 90-95% setelah 60-72 jam perlakuan. Pada perlakuan dengan pestisida nabati hanya 50%-60% populasi mati setelah 72 jam perlakuan.

TABEL HASIL PERLAKUAN BIOPESTISIDA TERHADAP ULAT GRAYAK
Jenis Biopestisida
Pengamatan Kematian Larva ( %)

24 jam
36 jam
48 jam
60 jam
72 jam
Anyaman (Lasia Spinosa)
0
10
20
20
30
Binjai (Mangifera caesia)
0
20
30
50
60
Ciplukan (Physalis Angulata)
0
20
30
50
50
Mahang  (Macaranga Sp)
0
20
30
50
60
Bintaro (Cerberra odollam)
30
50
80
90
95
Kontrol tanpa perlakuan
0
0
0
0
0
Kontrol Insektisida
100
100
100
100
100

Pengusir Tikus
Selain ampuh sebagai biopestida, Bintaro/kelampan handal sebagai alternatif untuk mengusir Tikus. Hewan pengerat yang satu ini memang kerap membuat pusing petani dan membuat jengkel para ibu rumah tangga yang perabotannya hancur dirusak Rattus-rattus. Ada tips  menarik yang diberikan oleh oleh Ibu Yuyu dari Ciampea Bogor Jawa Barat. Beliau menggunakan buah Bintaro muda yang didapat dari taman di sekitar rumahnya. Caranya pun mudah, buah bintaro muda diletakkan begitu saja di sudut rumah, loteng, dapur. hasilnya ajaib tikus tidak mau lagi masuk dalam rumahnya.
Kejadian ini masuk akal. Riset  Hien TT dari Fakultas Fisiologi, Tolouse Prancis dan Dr.Suryo Wiyono dari Klinik Tanaman IPB melaporkan senyawa cerberin pada bintaro meracuni dan merusak syaraf pusat otak tikus. Otomatis Tikus dengan penciuman yang sensitif terhadap bau racun cerberin akan ngacir sebelum masuk rumah kita.

Cara Pembuatan Biopestida Bintaro
Selain bahan yang muda didapat, cara pembuatan biopestida Bintaro pun sangat mudah dengan cara ekstraksi (etanol dan air)
Cara 1:
1.Siapkan 1 kg daun Bintaro segar, rendam 2 hari dalam larutan ethanol atau aseton
2.Saring ekstrak untuk memisahkan cairan dengan daun
3.Uapkan cairan ekstrak hingga pekat.
4.Untuk aplikasi, dosis 1 gram: 1 liter air.caranya dengan melarutkan 1 gram pasta dalam 5-10
Cc minyak tween lalu ditambah air sedikit demi sedikit.
5.Semprotkan 500 liter larutan untuk 1 hektar lahan.
Cara 2 :
1.Siapkan 50 gram daun bintaro dan 1 liter air yang dicampur 2 gram sabun colek.
2.Blender dan peras hingga menghasilkan larutan pekat.
3.Dosis pemakaian 10-20 cc perliter air.
Melihat begitu besarnya manfaat Bintaro dan melimpahnya bahan disekitar kita, tidak ada salahnya kita mencoba berkreasi menggunakan Bintaro sebagai alternatif pestisida nabati untuk mendukung pertanian organik.
Selamat Mencoba…

Sumber:
Wikipedia/bintaro
Rumah tanpa tikus Trubus Online
Majalah Trubus Edisi Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar