Minggu, 11 Januari 2015

PUPUK KIMIA, ORGANIK DAN HAYATI


Sudah tahukah anda tentang ketiga macam pupuk tersebut?
Berikut sedikit saya ulas tentang pupuk kimia, pupuk organik dan pupuk hayati.



1. PUPUK KIMIA
Seperti namanya Pupuk Kimia adalah pupuk yang dibuat secara kimia atau juga sering disebut dengan pupuk buatan. Pupuk kimia bisa dibedakan menjadi pupuk kimia tunggal dan pupuk kimia majemuk. Pupuk kimia tunggal hanya memiliki satu macam hara, sedangkan pupuk kimia majemuk memiliki kandungan hara lengkap. Pupuk kimia yang sering digunakan antara lain Urea dan ZA untuk hara N; pupuk TSP, DSP, dan SP-26 untuk hara P, Kcl atau MOP untuk hara K. Sedangkan pupuk majemuk biasanya dibuat dengan mencampurkan pupuk-pupuk tunggal. Komposisi haranya bermacam-macam, tergantung maunya produsen dan komoditasnya.

Jumat, 10 Oktober 2014

Cara membuat hormone Organik



Fungsi hormon bagi tanaman yaitu mengatur pertumbuhan. Tanaman dapat tumbuh dengan cepat karena ketersediaan hara dan air yang cukup serta asupan hormon dari luar yang optimum. Selain itu pengaruh lingkungan juga sangat berperan.
Secara alamiah hormon dibentuk dalam tubuh tanaman. Kerja hormon tidak pada tempat dimana hormon itu diproduksi. Sebagai contoh auksin, hormon ini di bentuk di pucuk batang dan bekerja di akar sebagai zat pengatur perakaran.
Hormon-hormon dari tanaman berada pada bagian-bagian tanaman. Hormon auksin banyak tersedia pada kecambah (toge), hormon sitokinin banyak tersedia pada hati ikan dan air kelapa dan hormon giberelin banyak tersedia di biji jagung.
Banyak hormon-hormon kimiawi yang berkembang di pasaran. Tentu sudah bukan rahasia lagi kalau yang kimiawi menyimpan ketidaktenangan akan bahayanya. Oleh karena itu cukup bijak bila penggunaan hormon tanaman organik mulai menggantinya.

Langkah-langkah membuat hormon organik yaitu:
1. Kelompokkan sumber hormon dan jangan dicampur jadi satu karena tiap hormon memiliki   fungsinya masing-masing dan bisa bertolak belakang satu sama lain. Bahan pokok ini diperlukan sebanyak 1 kg.
2. Lakukan penghancuran dengan blender agar proses dekomposisi menjadi lebih cepat. Jangan     lupa tambahkan 1 liter air dan 30 gram gula saat menghancurkan.
3. Saring sehingga ampas tidak terbawa agar memudahkan aplikasi dengan sprayer.
4. Fermentasikan dengan menambahkan starter seperti EM-4 sebanyak 1 tutup botol (10 ml).
5. Tutup rapat hingga hari kelima kemudian buka.
6. Buka dan tutup lagi setiap 2 hari sekali hingga hari ke 15.
7. Biarkan hingga mengendap, pisahkan cairan bening untuk diaplikasikan ke tanaman
8. Takarannya 1 tutup botol (10 ml) dicampur 2 liter air
semoga bermanfaat y...

Kamis, 03 April 2014

Mikroorganisme Lokal (MOL) Rebung Bambu


Rebung atau tunas bambu yang masih muda, selain digunakan oleh ibu-ibu untuk membuat sayuran (di daerah jawa),  ternyata bisa dimanfaatkan dalam dunia pertanian. Rebung digunakan sebagai bahan untuk membuat mol (mikroorganisme lokal) karena banyak mengandung mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Mol dari rebung bambu berfungsi sebagai zat perangsang pertumbuhan pada fase vegetatif 




Bahan:
-           2 buah rebung bambu kurang lebih 3 Kg
-           Air beras 5 liter
-           1 buah maja yang sudah matang,  jika tidak   ada dapat diganti dengan
   gula merah 1,5 ons       
                          
Cara Pembuatan:
-           Rebung bambu ditumbuk halus atau diiris-iris  kemudian masukan kedalam ember atau tong plastik
-           Campurkan dengan buah maja yang sudah dihaluskan
-           Tambahkan gula merah yang telah dihaluskan dan aduk   sampai rata
-           Rendam dengan air cucian beras sebanyak 5 liter
-           Tutup rapat ember/tong dengan plastik, dan berikan slang  plastik yang disambungkan dengan air yang berada pada   botol. Biarkan selama 15 hari 

Cara Penggunaan:
a.       Pengomposan; dapat digunakan sebagai dekomposer dengan konsentrasi 1:5 (artinya 1 liter cairan MOL   dicampur dengan 5 liter air tawar), tambahkan gula   merah 1 ons dan aduk hingga rata, siramkan pada  saat proses pembuatan kompos 
b.    Pengunaan pada tanaman; penyemrotan dilakukan   pada pagi/sore hari dengan konsentrasi 400 cc cairan dicampur dengan 14 liter air tawar pada umur 10, 20, 30 dan 40 hari setelah tanam