Jumat, 24 Juni 2016

Musuh Alami Hama Padi Jenis Patogen


Dalam pengendalian hama secara terpadu (PHT) aplikasi pestisida adalah jalan terakhir yang akan ditempuh jika komponen pengendalian lain tidak dapat membantu. Sebelum menggunaka pestisida untuk mengendalikan hama, petani perlu mengetahui terlebih dahulu perbedaan antara serangga hama dan musuh alami efektivitas musuh alami sebagai pengendali hama padi bergantung pada populasi selain lokasi, waktu, dan paraktek budi daya tanaman.
Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alaminya antara serangga hama dam musuh alaminya sering diganggu oleh penggunaan racun serangga yang tidak tepat. Meskipun dalam keadaan tertentu insektisida masih kita perlukan, namun penggunaannya harus secara bijaksana agar dapat menyelamatkan dan melestarikan kehidupan alami yang sangat peka teresebut.


Patogen.
Berbagai jasad renik dapat menyebabkan infeksi dan membunuh hama padi. Kelompok jasad renik utama adalah cendawan, virus dan bakteri, Nematoda dan beberapa organism lain juga ada yang bersifat demikian.
Cendawan sejauh ini adalah merupakan pathogen yang paling penting pada beberapa wereng daun dan wereng batang padi. Tidak jarang kita dapatkan adanya ledakan cendawan spp yang menyebabkan infeksi dan mematikan sekitar 90-95 % populasi wereng batang padi coklat di lapangan.
Virus cendawan sering mengendalikan ulat hama. Dari kelompok ini yang paling penting adalah virus nuclear polihidrosis dan virus granulosis. Ulat ulat yang terinfeksi virus berhenti makan dan tubuhnya berisi semacam cairan. Tubuhnya menjadi lembek dan kemudian mati sering kita lihat bergantung pada tanaman padi. Virus semacam ini dilaporkan hampir ada pada setiap jenis hama ulat padi. Kita pernah mengamati adanya wabah virus hama pada populasi hama penggulung daun dan ulat grayak/ulat tanah.
Wabah penyakit pada hama ulat yang sangat mengesankan adalah yang disebabkan oleh cendawan Nomuraea rileyi. Kita telah mencatat suatu wabah cendawan tersebut pada populasi hama pemakan daun. Dalam beberapa keadaan populasi ulat pemakan daun tidak pernah mencapai kerusakan ekonomis disebabkan karena adanya cendawan tersebut.
Penyakit atau patogen hama dapat diproduksi secara masal dengan biaya murah dalam bentuk cairan atau tepung, yang dalam pelaksanaannya dilapangan dapat disemprotkan seperti kita menggunakan insektisida yang biasa.
Jenis – jenis patogen.
Cendawan penyakit (Metarhizium anisopliae (Metchnikoff) Sorokin). Cendawan Metarhizium menginfeksi wereng, kepinding dan kumbang. Spora hinggap di badan suatu serangga, pada kelembaban yang tinggi dan lama, sehingga dapat berkecambah dan tumbuh di dalam badan serangga. Cendawan yang tumbuh didalam serangga inang akan memakan isi badan inangnya. Bila serangga inang mati, kemudian cendawan akan berkembang. Pertama-tama akan tumbuh sesuatu yang berwarna putih pada sambungan badan inang seperti Nampak pada kepinding hitam bila spora terbentuk, cendawan berubah menjadi hijau gelap apabila cendawan itu adalah M. anisopliae atau berubah menjadi hijau muda bila cendawan itu M. flavoviride. Cendawan yang terakhir itu memarasit wereng daun zig zag spora yang berkembang dari inang yang mati akan tersebar ke inang yang baru oleh bantuan angina tau air.
Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin. Beauveria bassiana merupakan suatu cendawan yang menyerang wereng batang, wereng daun, penggerek batang, penggulung daun, kepinding padi dan kepinding hitam. Cendawan ini terdapat di semua lingkungan padi. Seperti cendawan penyakit lain , B. bassiana memerlukan kelembababan yang tinggi dan lama untuk tumbuhnya spora-spora yang terbawa oleh angina tau air. Cendawan ini akan menyerang jaringan yang lunak dan cairan tubuh inangnya, kemudian tumbuh keluar dari tubuh inang bila siap mengahasilkan spora kembara. Spora itu kelihatannya seperti kapur putih pada tubuh wereng batang coklat atau kepinding padi.
Hirsutella merupakan suatu cendawan yang menyerang wereng batang dan wereng daun. Setelah cendawan masuk ke dalam badan inang dan memakan jaringan dalamnya, ia tumbuh keluar sebagai benag filament yang panjang. Semula berwarna putih kotor kemudian berubah menjadi kelabu. Spora cendawan yang dapat menyebar dan menginfeksi dihasilkan oleh filament tersebut.
Nomuraea.
Adalah suatu cendawan dengan spora hijau pucat. Cendawan tersebut menyerang larva penggerek batang, penggulung daun, ulat berambut hijau, ulat grayak dan hama putih. Pada infeksi tahap awal, larva yang terserang oleh Nomuraea menjadi berwarna putih. Beberapa hari kemudian spora-spora jamur akan terbentuk dan ulat yang terserang berubah warna menjadi hijau pucat.
Virus nuclear polyhedrosis biasanya menyerang ulat grayak dan ulat tanah. Larva menjadi terinfksi karena memakan daun yang mengandung virus. Apabila virus telah menyebar dalam tubuh inang. Akibatnya, inang menjadi lamban dan berhenti makan. Selanjutnya larva berubah menjadi keputihan kemudian berwarna kegelapan serta posisi badan seakan akan menggantung pada daun –daun padi cairan yang keluar dari badan larva mencemari daun-daun sekitarnya dan melanjutkan edaran (siklus) penyakit.
Virus Granulosis menyerang larva ngengat dan kupu-kupu. Seperti halnya virus nuclear polyhedrosis, setelah larva inang memakan daun yang sudah tercemar virus grakannya menjadi lambat dan akhirnya berhenti makan. Setelah 1 sampai 2 minggu, tubuh menjadi berkeriput, member kenampakan beruas seperti larva ulat jengkal coklat larva yang telah terinfeksi virus berubah menjadi kuning, jingga, dan hitam kemudian larva menjadi lunak. (Penulis :Suwarna- Penyuluh Pertanian Pusat).
Sumber :
1. B.M. Shepard, A.T. Barrion, dan J.A. Litsinger, " Musuh Alami Hama Padi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor . Tahun 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar